- by admin
- Oct 17, 2024
Laporan PMI ISM dan Data NFP AS, Akan Berpengaruh Pada
Kebijakan suku bunga The Fed.
Dolar AS menguat karena investor menyesuaikan ekspektasi kebijakan The Fed
yang lebih hati-hati. Ketua The Fed, Powell, mengingatkan perlunya
menyeimbangkan risiko inflasi dan pasar tenaga kerja yang melemah. Kenaikan
tarif masih memberi tekanan inflasi, dan ekonomi AS tetap tumbuh kuat dengan
proyeksi 3,3% di kuartal ketiga. Minggu ini, fokus pasar akan pada data PMI
manufaktur dan non-manufaktur ISM serta laporan ketenagakerjaan September
(NFP). Jika data bisnis dan tenaga kerja melemah, pasar bisa memperkuat
dugaan pemotongan suku bunga lebih dari sekali tahun depan, yang akan
melemahkan dolar. Sebaliknya, data yang kuat bisa mendongkrak dolar dan
mengurangi spekulasi kebijakan pemangkasan. Selain itu, pidato pejabat Fed dan
data lapangan kerja swasta ADP juga akan diperhatikan untuk gambaran kondisi
pasar tenaga kerja September.
Kebijakan RBA Yang Dovish Dapat Menekan Aussie
Minggu ini, meski Tiongkok tutup untuk Hari Nasional, pasar fokus pada
keputusan kebijakan RBA Selasa, setelah rilis PMI resmi Tiongkok. Pada Agustus,
RBA memangkas suku bunga karena inflasi turun, tapi inflasi terbaru naik lagi,
membuat pasar menunda perkiraan pemotongan suku bunga berikutnya hingga
awal 2026. Tingkat IHK bulanan (y/y) melonjak menjadi 2,8% pada bulan Juli dari
1,9% dan bahkan meningkat lebih jauh menjadi 3,0% pada bulan Agustus.
Gubernur Bullock menyatakan data ekonomi sedikit lebih kuat tapi masih penuh
ketidakpastian, menandakan RBA bisa menunda penurunan suku bunga. Jika
demikian, Dolar Australia bisa melemah, apalagi jika PMI Tiongkok menunjukkan
penurunan di sektor manufaktur selama enam bulan berturut-turut. Untuk
pertemuan ini, peluang penurunan suku bunga hanya 7%, sementara 93% sisanya
menunjukkan tidak ada perubahan suku bunga.
Akankah Laporan Data CPI Dapat Memicu Spekulasi
Pemotongan Suku Bunga ECB?
Para pedagang Euro harus mencerna data IHK awal untuk bulan September dari
Italia, Prancis, dan Jerman pada hari Selasa, dan dari seluruh Zona Euro pada
hari Rabu. ECB mempertahankan suku bunga pada pertemuan terakhirnya,
mempertahankan pandangan positif terhadap pertumbuhan dan inflasi,
sementara Presiden Lagarde mencatat bahwa Bank berada dalam "posisi yang
baik", dengan inflasi berada di level yang mereka inginkan. Dengan kata lain,
sebagian besar investor percaya bahwa ECB telah menyelesaikan siklus
pemangkasan suku bunganya. Wakil Presiden ECB de Guindos baru-baru ini
mengatakan bahwa mereka memantau dengan cermat nilai tukar efektif nominal
euro, bukan hanya levelnya terhadap dolar AS. Nilai tukar efektif tersebut berada
pada rekor tertinggi, naik 27% selama dekade terakhir. Artinya, penguatan euro
tidak hanya akan menyebabkan inflasi di bawah target ECB, tetapi juga
merugikan perdagangan dan perekonomian kawasan Euro.
Benarkah Notulen Rapat BoJ Mengkonfirmasi Kenaikan Suku Bunga?
Bank of Japan (BoJ) terlihat lebih hawkish dari perkiraan, dengan kemungkinan
kenaikan suku bunga 25bps sebesar 55% pada pertemuan berikutnya dan sekitar
80% pada akhir tahun. Ringkasan Opini yang dirilis Senin bisa memberikan
petunjuk arah kebijakan, tapi prediksi jelas mungkin sulit karena pemilihan
pengganti PM Ishiba pada 4 Oktober dapat memengaruhi keputusan BoJ.
Meskipun ada kecenderungan kenaikan suku bunga, belum pasti dan yen belum
sepenuhnya menguat. Beberapa trader masih ragu jika kebijakan pelonggaran
dipercepat oleh pengganti Ishiba yang pro-pelonggaran. Dengan demikian,
meskipun para pembuat kebijakan cenderung menaikkan suku bunga dalam
beberapa bulan mendatang, kenaikan tersebut belum pasti. Beberapa pedagang
mungkin tetap skeptis jika pengganti Ishiba dianggap pro-pelonggaran moneter.