- by admin
- Oct 17, 2024
bloomberg, Inflasi di Tokyo melambat lebih dari yang diperkirakan akibat subsidi pemerintah yang bertujuan mengurangi biaya energi. Distorsi dalam data ini kemungkinan tidak akan menghentikan bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) untuk mempertimbangkan kenaikan lebih lanjut terhadap suku bunga acuannya.
Menurut Kementerian Dalam Negeri Jepang pada Jumat (28/2/2025), harga konsumen di Tokyo—tidak termasuk makanan segar—naik 2,2% pada Februari dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini lebih rendah dari perkiraan median sebesar 2,3% tetapi masih berada di atas target BOJ.
Sementara itu, inflasi yang tidak memasukkan komponen makanan segar dan energi naik 1,9%, menunjukkan bahwa inflasi inti tetap stabil.
Sebagai indikator utama tren nasional, stabilnya pertumbuhan harga di Tokyo kemungkinan akan mendorong BOJ untuk terus mengurangi kebijakan moneter longgar dengan menaikkan suku bunga secara bertahap menuju level netral. Dalam survei yang dilakukan Bloomberg, para ekonom memperkirakan bank sentral akan menunggu hingga musim panas sebelum kembali menaikkan suku bunga, setelah sebelumnya menaikkan suku bunga pada bulan lalu.
Namun, dalam skenario tertentu, kenaikan suku bunga bisa terjadi lebih cepat, bahkan pada pertemuan yang berakhir pada 1 Mei, menurut hasil survei tersebut. Hingga Maret 2027, BOJ memperkirakan inflasi akan tetap berada di atau di atas target 2%.
Laju inflasi di Tokyo lebih rendah dibandingkan tren nasional, sebagian karena adanya subsidi pendidikan yang hanya berlaku di ibu kota Jepang. Sebagai perbandingan, indeks harga utama secara nasional melonjak hingga 3,2% pada Januari.
Data yang dirilis Jumat menunjukkan kenaikan biaya energi di Tokyo melambat menjadi 6,9% pada Februari dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, turun dari 13,3% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan harga makanan olahan naik tipis menjadi 5%, sementara kenaikan harga barang tahan lama, barang pendidikan dan rekreasi, serta biaya penginapan mengalami perlambatan.
Meskipun BOJ menggunakan indeks harga yang mengecualikan makanan segar sebagai tolok ukur utama, para pejabat tampaknya mulai lebih memperhatikan kategori ini. Pasalnya, rumah tangga Jepang merasakan dampak kenaikan harga kebutuhan pokok sehari-hari, seperti beras dan kubis. Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengatakan awal bulan ini bahwa ia akan mempertimbangkan faktor inflasi pangan, karena hal tersebut mungkin tidak bersifat sementara dan dapat memengaruhi ekspektasi inflasi konsumen.
Secara keseluruhan, tingkat inflasi di Tokyo melambat menjadi 2,9% pada Februari dari 3,4% pada bulan sebelumnya, dengan lonjakan harga makanan segar yang mulai mereda.
Meskipun ekonomi Jepang tumbuh selama tiga kuartal berturut-turut hingga akhir 2024, Perdana Menteri Shigeru Ishiba tetap mempertahankan langkah-langkah bantuan harga. Frustrasi masyarakat terhadap meningkatnya biaya hidup menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pendahulunya, Fumio Kishida, mundur dari jabatannya. Namun, meskipun ada subsidi, tingkat dukungan terhadap Ishiba terus menurun.