- by admin
- Oct 17, 2024
Bloomberg, China mulai memberlakukan tarif impor hingga 15% terhadap berbagai produk pertanian Amerika Serikat (AS) pada Senin (10/3/2025). Langkah ini berpotensi memperburuk ketegangan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia.
Kebijakan yang diumumkan pekan lalu ini mencakup berbagai komoditas, mulai dari daging sapi dan unggas hingga biji-bijian. Selain tarif baru, pemerintah China juga menghentikan impor kedelai dari tiga perusahaan AS serta menangguhkan pembelian kayu gelondongan asal Amerika.
Langkah China ini merupakan respons atas kebijakan pemerintahan Donald Trump yang menggandakan tarif umum terhadap seluruh ekspor China. Berbeda dengan kebijakan AS yang bersifat menyeluruh, Beijing tampaknya menargetkan produk-produk yang dapat mereka peroleh dari negara lain, sehingga dampak terhadap ekonomi domestik bisa diminimalkan.
Pejabat China sendiri menunjukkan kepercayaan diri dalam menghadapi ketegangan dagang dengan AS. Menteri Keuangan Lan Fo’an menyatakan bahwa pemerintah pusat memiliki berbagai instrumen kebijakan fiskal yang cukup untuk merespons tantangan ekonomi domestik maupun global.
Meskipun kebijakan pembalasan ini menandai ketegangan baru, Beijing tampaknya masih berusaha menghindari eskalasi lebih lanjut. Hingga saat ini, Trump menyatakan kesediaannya untuk berdialog dengan Presiden Xi Jinping, tetapi belum ada pertemuan resmi yang dijadwalkan.
Pemberlakuan tarif ini bertepatan dengan pertemuan Kongres Rakyat Nasional di Beijing. Dalam pertemuan pekan lalu, Perdana Menteri Li Qiang menetapkan target pertumbuhan ekonomi sekitar 5%—sebuah sasaran ambisius di tengah ketidakpastian perdagangan, krisis properti yang berkepanjangan, dan tekanan deflasi yang membayangi ekonomi China.
Pada Minggu (09/03/2025), data resmi menunjukkan bahwa inflasi China turun lebih dari perkiraan dan bahkan memasuki zona negatif untuk pertama kalinya dalam 13 bulan terakhir.
Indeks harga konsumen inti (IHK inti), yang tidak mencakup harga makanan dan energi yang bergejolak, mencatat penurunan 0,1%—penurunan pertama sejak 2021 dan hanya yang kedua dalam lebih dari 15 tahun terakhir.
Sebagai upaya untuk mendorong belanja dan mengimbangi dampak tarif AS, Li juga mengumumkan peningkatan defisit anggaran umum ke tingkat tertinggi dalam lebih dari tiga dekade.