- by admin
- Oct 17, 2024
Pound sterling masih kesulitan mempertahankan penguatan karena pasar menimbang arah kebijakan moneter Bank of England (BoE) serta perkembangan politik terbaru di Inggris. GBP/USD bergerak stabil di sekitar 1,3430 pada perdagangan Asia Selasa setelah sebelumnya melemah selama tiga hari berturut-turut.
Sebelumnya, pasangan mata uang ini sempat naik mendekati level tertinggi dua bulan di area 1,3550. Namun, para pelaku pasar kini bersikap lebih hati-hati karena mulai membandingkan prospek kebijakan BoE dan Federal Reserve AS (Fed), sekaligus mencermati perubahan di Westminster di bawah Perdana Menteri baru Andy Burnham.
Perbedaan arah kebijakan bank sentral masih menjadi faktor utama pergerakan GBP/USD. Pasar memperkirakan penyesuaian suku bunga di Inggris dan AS, tetapi selisih kecil dalam kekuatan inflasi dan ketahanan pasar tenaga kerja tetap menentukan daya tarik imbal hasil masing-masing mata uang.
Data tenaga kerja, inflasi, dan penjualan ritel Inggris yang akan dirilis dalam waktu dekat akan menjadi petunjuk penting bagi pasar. Hasil data tersebut akan membantu menentukan apakah BoE masih bisa mempertahankan kebijakan ketat lebih lama atau justru harus mempercepat pelonggaran.
Harga minyak yang masih tinggi juga menjaga tekanan inflasi tetap hidup, sehingga memperkuat pandangan bahwa BoE kemungkinan akan bertahan lebih lama sebelum memangkas suku bunga.
Di sisi politik, pasar juga tengah mencerna pergantian kepemimpinan di London setelah Andy Burnham resmi menjadi Perdana Menteri Inggris ketujuh dalam satu dekade. Ia menegaskan komitmen pada disiplin fiskal, meski memberi sinyal adanya kemungkinan keringanan pajak melalui penyesuaian tunjangan pribadi.
Kini perhatian tertuju pada susunan kabinet, khususnya siapa yang akan memimpin Kementerian Keuangan. Sejumlah laporan menyebut Shabana Mahmood sebagai kandidat terkuat untuk posisi kanselir.
Selama belum ada sinyal yang lebih jelas dari BoE maupun data ekonomi Inggris berikutnya, GBP/USD kemungkinan tetap bergerak terbatas dan berfluktuasi. Arah pasangan ini akan sangat dipengaruhi oleh pergeseran ekspektasi suku bunga serta sentimen risiko global.
Dari sisi AS, data inflasi yang mulai melunak menahan ruang penguatan dolar, tetapi ketegangan geopolitik dan minat pada aset aman masih memberi dukungan sesekali kepada greenback. Kombinasi itu membuat pound sulit membangun reli yang lebih kuat dalam waktu dekat.