- by admin
- Oct 17, 2024
Harga minyak melanjutkan reli tajam dalam perdagangan Asia pada Selasa setelah melonjak hampir 10% pada sesi sebelumnya, seiring meningkatnya ketegangan AS-Iran. Kenaikan dipicu keputusan Washington untuk memberlakukan kembali blokade maritim terhadap Iran serta mengenakan biaya pada kargo yang melintasi Selat Hormuz.
Pada pukul 20:56 ET (00:53 GMT), kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman September naik 2,1% ke US$85,01 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga naik 2,1% ke US$79,78 per barel.
Kedua acuan tersebut sebelumnya melonjak hampir 10% pada sesi Senin ke level tertinggi dalam satu bulan, mencatat kenaikan harian terbesar dalam beberapa bulan.
Reli terbaru ini menyusul pernyataan Presiden Donald Trump bahwa Amerika Serikat akan kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran setelah baku tembak militer terbaru dengan Teheran. Trump juga mengatakan Washington akan memungut biaya 20% atas kargo yang melewati Selat Hormuz untuk menutup biaya keamanan.
Militer AS menyatakan blokade akan mulai diberlakukan pada Selasa, dengan menargetkan lalu lintas kapal yang terkait dengan Iran, sementara pengiriman komersial netral tetap diizinkan melewati jalur tersebut.
Di sisi lain, Iran dilaporkan melancarkan serangan drone terhadap aset AS di Kuwait dan menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz dengan rudal jelajah. Uni Emirat Arab juga mengatakan dua kapal tanker mereka diserang di perairan Oman.
Investor khawatir eskalasi militer lebih lanjut atau aksi balasan dapat mengganggu aliran minyak dari Teluk, yang selama ini menjadi jalur bagi sekitar seperlima konsumsi minyak global.
Ketegangan terbaru ini muncul setelah pertukaran serangan rudal dan drone antara pasukan AS dan Iran pada akhir pekan, yang praktis mengakhiri kesepahaman rapuh bulan lalu untuk meredakan konflik di sekitar Selat Hormuz.
Teheran telah memperingatkan bahwa serangan militer AS yang berlanjut dapat memicu pembalasan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi regional.
Lonjakan harga minyak mentah ini turut mengguncang pasar keuangan, menekan saham dan meningkatkan kekhawatiran inflasi, karena investor kembali menilai dampak kenaikan biaya energi terhadap pertumbuhan global dan arah kebijakan bank sentral.