Waller The Fed: Kenaikan Suku Bunga Dapat Dilakukan Jika Inflasi Tinggi


Waller The Fed: Kenaikan Suku Bunga Dapat Dilakukan Jika Inflasi Tinggi
Waller The Fed: Kenaikan Suku Bunga Dapat Dilakukan Jika Inflasi Tinggi
283 views

Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve (The Fed), Christopher Waller, mengatakan bahwa para pembuat kebijakan mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat jika inflasi inti terus menunjukkan tekanan harga yang luas.

“Jika kita kembali melihat angka inflasi inti yang tinggi pekan ini, maka FOMC perlu mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter dalam waktu dekat,” kata Waller pada Senin (13/7) dalam sambutan tertulis untuk sebuah acara di New York. Ia merujuk pada Federal Open Market Committee, komite penetapan suku bunga bank sentral AS.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS dijadwalkan merilis data indeks harga konsumen (IHK) terbaru pada Selasa. Waller menilai kondisi ekonomi saat ini masih cukup baik, dengan pasar tenaga kerja yang stabil dan permintaan konsumen yang tetap tangguh. Namun, ia menyebut kebijakan moneter kini berada di “persimpangan jalan” akibat tekanan inflasi dari tarif, harga energi, dan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan atau AI.

“Bagaimanapun cara Anda melihatnya, atau indikator apa pun yang digunakan, inflasi tahun ini tetap naik,” ujarnya. “Pada titik ini, saya khawatir dengan laju inflasi inti yang masih tinggi.”

Waller menyoroti indikator inflasi pilihan The Fed yang mengecualikan komponen pangan dan energi yang bergejolak. Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau PCE inti tercatat sebesar 3,4% secara tahunan hingga Mei, dan menurutnya tren kenaikan itu sudah berlangsung sejak Januari, bahkan sebelum perang AS-Iran pecah.

Pada pertemuan bulan lalu, para pembuat kebijakan sepakat mempertahankan suku bunga acuan. Namun, risalah rapat menunjukkan bahwa beberapa pejabat menilai ada urgensi untuk mulai menaikkan suku bunga. Dalam proyeksi ekonomi terbaru, separuh dari 18 pembuat kebijakan memperkirakan setidaknya satu kenaikan sebesar seperempat poin persentase tahun ini.

Di sisi lain, Gubernur The Fed Kevin Warsh memilih tidak memberikan proyeksi suku bunga dan menghindari komentar rinci mengenai kondisi ekonomi, meski dijadwalkan memberikan kesaksian di hadapan anggota dewan pekan ini.

Gelombang serangan baru antara AS dan Iran turut mendorong harga energi, meski harga minyak dunia masih berada jauh di bawah puncaknya pada Maret dan April lalu. Berdasarkan survei ekonom Bloomberg, IHK AS yang dirilis Selasa diperkirakan melambat menjadi 3,8% secara tahunan pada Juni, turun dari 4,2% pada Mei.

“Saya akan sangat senang melihat inflasi inti yang lebih rendah. Namun, melihat eskalasi sepanjang paruh pertama tahun ini, saya perlu beberapa bulan data yang lebih lemah berturut-turut untuk yakin bahwa inflasi benar-benar bergerak ke arah yang tepat,” kata Waller.

Ia menambahkan bahwa skenario penurunan inflasi masih masuk akal. Jika itu terjadi, ia akan mendukung opsi untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil.

Waller juga menekankan pentingnya menghindari kesalahan pada episode inflasi 2021–2022, ketika FOMC dikritik karena terlalu lambat menaikkan suku bunga. Meski demikian, ia menegaskan bahwa situasi saat ini berbeda: pasar tenaga kerja tidak terlalu ketat dan ekspektasi inflasi jangka panjang masih terjaga.

Namun, menurutnya, kenaikan inflasi inti yang persisten dapat menjadi tanda bahwa tekanan harga mulai menyebar lebih luas ke perekonomian. “FOMC harus siap memperketat kebijakan moneter untuk mencegah terulangnya episode inflasi 2021 hingga 2022,” pungkasnya.

We Are Team

admin

Please Login to comment in the post!

you may also like

" />
Rabu, Agustus 5, 2026 16:02:02 Jakarta, Indonesia