- by admin
- Oct 17, 2024
Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor panjang terus menguat, dengan yield Treasury 30 tahun mencapai level tertinggi sejak Juli 2007. Kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketegangan geopolitik kembali memicu kekhawatiran inflasi, sekaligus menekan ekspektasi pelonggaran moneter dalam waktu dekat.
Pada perdagangan Selasa, imbal hasil Treasury 30 tahun bergerak di 5,195% setelah sempat menyentuh 5,197% di awal sesi, sementara yield Treasury 10 tahun berada di 4,683%. Lonjakan ini menegaskan tekanan yang semakin besar di pasar obligasi, di tengah pandangan bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Kenaikan harga energi yang terkait dengan konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran, membuat investor menilai ulang prospek kebijakan Federal Reserve. Harga minyak yang lebih tinggi turut mengurangi keyakinan bahwa langkah Fed berikutnya akan segera berupa penurunan suku bunga.
Di saat yang sama, investor juga menuntut premi jangka waktu yang lebih tinggi untuk memegang surat utang jangka panjang. Kekhawatiran mengenai defisit fiskal yang terus melebar dan kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar ikut membebani sentimen terhadap obligasi Treasury.
Survei Bank of America yang dikutip Reuters pada Selasa menunjukkan bahwa 62% manajer dana memperkirakan imbal hasil Treasury 30 tahun dapat naik di atas 6% dalam 12 bulan ke depan.
Pasar juga masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Meredanya konflik secara signifikan berpotensi menekan harga minyak, memperbaiki prospek inflasi, dan mendukung permintaan obligasi. Namun, selama ketidakpastian terkait Iran masih tinggi, pasar obligasi jangka panjang diperkirakan tetap sensitif.
Kenaikan imbal hasil yang berkelanjutan juga berisiko menekan pasar keuangan yang lebih luas, terutama melalui kenaikan biaya hipotek, pengetatan kredit konsumen, dan tekanan pada valuasi saham.