- by admin
- Oct 17, 2024
Dolar AS masih berpotensi menguat lagi jika data PMI Jasa ISM dan risalah The
Fed memberi sinyal hawkish, meski pasar baru saja menurunkan ekspektasi
kenaikan suku bunga setelah data NFP dan PMI manufaktur yang lemah.
Dolar AS sempat melemah terhadap mayoritas mata uang utama karena data
tenaga kerja dan manufaktur AS mengecewakan. Meski begitu, pasar masih
menilai The Fed bisa menaikkan suku bunga lagi sebelum akhir tahun, terutama
jika inflasi dan aktivitas jasa tetap kuat.
Fokus pekan ini ada pada PMI Jasa ISM dan risalah FOMC, yang bisa mengubah
ekspektasi pasar soal arah suku bunga The Fed. Jika risalah bernada agresif,
imbal hasil obligasi dan dolar AS bisa naik lagi, sementara emas dan saham
berpotensi tertekan. Bullish USD jika data jasa AS tetap solid dan risalah Fed
menegaskan peluang kenaikan suku bunga. Bearish emas bila yield obligasi naik
dan biaya peluang memegang emas meningkat. Risiko tekanan ekuitas jika pasar
kembali memprice-in jalur suku bunga Fed yang lebih tinggi. NZD hanya akan
mendapat dorongan kuat bila RBNZ tidak sekadar naik 25 bps, tetapi juga
memberi panduan yang tegas soal kenaikan lanjutan.
Risalah ECB dan Data CPI China Menjadi Fokus
pasar akan mencermati risalah ECB untuk melihat apakah bank sentral masih
membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan setelah kenaikan 25 bps dan
revisi proyeksi inflasi ke atas. Jika nada risalah menegaskan bahwa kenaikan
berturut-turut masih mungkin dilakukan bila data mendukung, euro berpotensi
mendapat dorongan. Di luar Eropa, data CPI dan PPI China akan memberi
petunjuk tambahan soal tekanan harga dan kondisi permintaan, lalu Kanada
merilis laporan ketenagakerjaan pada Jumat. Ini penting karena dolar Kanada
sedang tertekan oleh harga minyak yang melemah dan sikap kebijakan BoC
yang netral; laporan pekerjaan yang kuat bisa memicu pemulihan CAD.